PRAMUKA SMA NEGERI 2 MARTAPURA

Pramuka merupakan salah satu ekstrakulikuler di SMA Negeri 2 Martapura

ROHIS AT- TAQWA SMA NEGERI 2 MARTAPURA

proses peningkatan mutu keagamaan.

TIM PASKIBRAKA SMA NEGERI 2 MARTAPURA

Paskibraka merupakan salah satu kegiatan Ekstrakurikuler yang di laksanakan di SMA Negeri 2 Martapura Kabupaten OKU Timur Sumatera Selatan.

JAJARAN GURU DAN TENAGA ADMINISTRASI SEKOLAH

Foto Bersama Guru Dan TAS SMAN2MPA

Ekstrakulikuler Jurnalistik

Foto Bersama Pembina dan Anggota Ekstrakulikuler Jurnalistik

Selama Hari Jadi Kabupaten OKU Timur

Rabu, 04 Februari 2026

PETAKA GUNUNG PAYAKANG




Karya : Zalfa nafisa, Verlita Evelina, Resti Oktavia, Fanesya Anggi Arfita (XI.7) 

Malam itu 6 sekawan berkumpul di sebuah cafe, dipertemuan ini mereka membahas masa-masa indah waktu SMA. Kemudian Saka mengusulkan pada teman-temannya untuk liburan di desa sakau yang mempunyai gunung dengan pemandangan yang indah. Lisa, Dayana, Dina, farel serta Gilang menyetujui usulan tersebut. Mereka memutuskan untuk berangkat lusa pagi.


Saat lusa pagi tiba mereka berkumpul di rumah Dayana pada pukul 08.00 pagi mereka berangkat menggunakan mobil Gilang. Dalam perjalanan mereka menikmati pemandangan indah sepanjang jalan, setibanya mereka di desa sakau. Mereka pergi ke villa yang mereka sewa untuk beristirahat sebelum mengelilingi desa tersebut. Keesokan paginya mereka berkeliling desa tersebut dan bertanya pada warga desa di sana dimana tempat-tempat yang indah menurut mereka.


 Warga desa di sana memberitahu bahwa ada sungai Baligayo dan gunung payakang yang tempatnya memiliki keindahan alam yang masih asri. Namun warga menyarankan mereka untuk pergi ke sungai Baligayo yang masih sangat terjaga keasrian dan terletak di tengah hutan. Namun warga setempat memperingatkan mereka berenam jangan menginjak akar pohon batahita yaitu pohon besar yang ada di tengah hutan. Mereka juga diperingatkan untuk pulang sebelum malam tiba. 


Mereka yang diperingatkan hal tersebut oleh warga hanya saling pandang satu sama lain. Mendengarkan hal itu Dina ketakutan hingga menggenggam tangan Dayana begitu kuat.  Lalu Dina berkata "kita pulang aja yuk nggak usah naik gunung kita mampir ke sungai Baligayo aja besok.." Dayana yang mendengarkan perkataan Dina meyakinkan untuk tidak takut dan akan baik-baik saja.


Setelah mendapatkan informasi dari warga mereka berenam memutuskan untuk kembali ke villa. Hingga pada tengah malam dengan suasana malam yang begitu damai dengan bintang-bintang yang bersinar terang menghiasi langit malam Dayana dan Saka duduk di bangku yang sama di halaman villa sambil memandangi bintang-bintang tersebut. 


Namun sayangnya hal itu dilihat oleh Lisa.Lisa yang juga memendam rasa suka pada Saka sejak lama hatinya terasa panas dan dipenuhi rasa cemburu. Melihat pemandangan yang ada di depannya, Lisa menghampiri mereka dan bertanya "kok kalian deket banget ada hubungan apa?"Lalu Dayana menjawab "nggak ada sih, kita berdua cuma lagi nyantai aja " Lisa yang dipenuhi api cemburu berniat untuk membalas dendam pada Dayana. 


Saat matahari terbit mereka sudah bersiap menuju sungai Baligayo dengan barang barang pendakian mereka, akan tetapi saat mereka hendak berangkat dengan mobilnya Gilang. Lisa bersikeras untuk duduk di samping saka, meski saka merasa tidak nyaman ia tetap setuju. Dayana yang melihat itu hanya diam dan mengalah ia memilih duduk di belakang Dina. 


Di dalam perjalanan mereka melewati persawahan untuk sampai ke hutan. setibanya mereka di hutan mereka harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, dayana melihat sekeliling hutan kini melihat seekor anak rusa. Dayana berkata "eh! Lihat di sana ada rusa" sambil menunjuk ke pohon besar di sana. Farel yang melihat rusa bertanduk perak itu sangat tertarik dan menurut kabar warga desa rusa itu sangat jarang terlihat. Farel mendekati rusa itu tetapi ia tersandung akar pohon yang mencuat seperti yang diperingatkan oleh warga desa sakau. Tapi Farel tidak memperdulikan hal tersebut dan memilih memotret rusa itu.


Hingga beberapa saat Gilang pun memanggil Farel untuk melanjutkan perjalanan ke sungai Baligayo. Setibanya mereka di sungai pukul 10.00 pagi benar saja sungai itu terlihat asri dan terjaga keindahannya dayana yang berada di tepi sungai dikagetkan oleh Lisa yang tiba-tiba menyenggolnya namun untungnya ada saka dengan cepat menyelamatkannya dan memegang erat pergelangan tangan Dayana yang membuat Dayana dan Saka begitu dekat sekali. 


Dayana yang salah tingkah pun mendorong saka menjauh. Lisa yang melihat hal itu semakin diliputi api cemburu, Namun ia tetap tenang dan memilih bergabung kepada Dina, Gilang dan Farel yang sedang meikmati pemandangan sungai sebari beristirahat di tepi sungai. 



Setelah selesai bersantai di tepi sungai mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke gunung payakang. Saka yang memimpin rombongannya dengan berhati-hati berjalan didepan sembari menikmati pemandangan alam yang indah dan segarnya udara pegunungan.


Semakin tinggi mereka mendaki Semakin aneh suasana yang mereka rasakan.

Dengan angin yang mulai berhembus kencang dan suara-suara aneh terdengar di sekitar mereka dayana yang merasa seperti ada suara langkah kaki yang begitu berat dan Farel yang berada di barisan belakang semakin merasakan hawa yang tidak enak.


Akan tetapi lisa memecahkan fokus Farel dan gilang yang sedang memotret alam sekeliling jalur pendakian. "eh Farel.. Gilang kalian sadar gak sih kalau Saka rada aneh belakang ini" ucap Lisa yang mulai berniat buruk. "Aneh gimana? Keliatannya biasa aja.." balas Gilang.

"Tapi memang aneh sih, karena sebelumnya Saka benar benar hilang kabar tiba-tiba muncul di reuni yang bahkan kita saja tidak mengabarinya.." sambung Farel yang mulai merasa curiga. 


Gilang yang masih sambil memotret alam kini menatap heran Farel. "Perasaan kalian berdua saja mungkin Saka dapat informasi dari teman kita yang lain.." jawab Gilang yang begitu percaya pada pendiriannya. Tiba-tiba Dina menjerit hingga jatuh ke tanah sembari menunjuk ke salah satu pohon. "I-itu ada sesuatu di atas pohon bergelantungan..." Semuanya sontak menoleh ke atas pohon yang di tunjuk Dina. Akan tetapi semuanya tidak melihat apa yang di lihat Dina.


"Sudah jangan khawatir itu perasaan kamu saja mungkin hanya dahan pohon yang patah tertiup angin" ucap Dayana sambil menenangkan Dina dan Lisa membantu Dina kembali berdiri tegak. Tiba-tiba saka berhenti di depan dan menyuruh rombongan untuk diam. "Diam! aku mendengar sesuatu dari belakang apapun yang terjadi jangan bergerak atau menoleh ke belakang sampai aku bilang aman". Mereka menurut kecuali Lisa yang malah menoleh ke belakang.

Alhasil Lisa melihat pemandangan yang sangat mengerikan... sesosok tubuh yang bergelantung terbalik di atas pohon seraya tersenyum dengan mulut yang lebar dan berlumuran darah. Lisa dengan cepat menutup matanya dan berharap agar makhluk itu pergi,akan tetapi karena sosok tersebut menutup pendengaran Lisa hingga membuat Lisa tak mendengar bahwa saka memperingatkan Lisa untuk tak membuka mata,sehingga ketika Lisa membuka matanya sosok tersebut sudah berada di depan nya sambil tersenyum menyentuh wajah Lisa dengan jarinya yang tajam seperti pisau berlumuran darah.


Lisa menjerit ketakutan yang membuat mereka semua menghampiri Lisa mereka melihat sosok tersebut gilang yang kebetulan punya indra keenam memungkinkan ia untuk berinteraksi dengan sosok tersebut. "Sosok ini tidak mengganggu, hanya saja ia marah. karena kita melakukan kesalahan fatal.... pertama menginjak akar pohon yang diperingatkan warga desa yang kedua tunggu! kita datang ganjil??" Ucap Gilang yang bingung dan bertanya-tanya.


Dina menoleh untuk melihat mereka semua dan berkata " tapi..kita kan berangkat berenam.." Ujar Dina. Mereka semua akhirnya saling pandang dan menuduh satu sama lain. " Kalau kita ganjil berarti ada tiga orang dari kita yang bukan manusia,yang pasti bukan gue manusia" Kata Farel dengan tegas.


"Kita harus sampai ke puncak untuk mengetahui kebenarannya" ucap Gilang. Dalam hati Gilang mulai curiga pada Dina dan Saka ia lebih memilih untuk memendam kecurigaannya agar suasana tidak semakin tegang. Akhirnya setelah saling menuduh mereka memutuskan untuk melanjutkan pendakian. Ketika waktu semakin gelap mereka mencari tempat untuk beristirahat dan mendirikan tenda 


Saka menyuruh agar Farel dan Gilang mencari kayu bakar sementara yang perempuan mendirikan tenda. Dayana mendirikan tenda sendirian namun tendanya selalu gagal berdiri hingga akhirnya Saka ikut membantu dayana untuk mendirikan tenda. Lisa semakin kesal melihat hal tersebut pada saat mereka memasak makan malam, Lisa mengajak Dayana untuk menemaninya buang air kecil di posisi yang agak jauh.


 Dayana pun menyetujuinya tanpa menaruh rasa curiga kepada Lisa akan tetapi ketika mereka sudah sampai di tempat yang jauh. dayana tidak memperhatikan sekitar yanh kini ditepi tebing. " Lis,bukannya ini agak kejauhan ya? " Ucap Dayana. " Ga kok,kan emang itu tujuannya..." Kata Lisa seraya mengejek, Dayana belum sempat membalas dan tiba-tiba Lisa mendorong Dayana dari tebing. " Makanya gausah deket-deket sama Saka,kek ada hubungan aja kalian berdua" Ucap Lisa sambil tersenyum puas dan kembali ke perkemahan. 


Saka yang melihat Lisa kembali tanpa Dayana mulai khawatir dan bertanya dimana Dayana. " Oh Dayana masih buang air,katanya duluan aja " Ujar Lisa yang kemudian duduk di samping Saka sambil tersenyum gembira. Saka kemudian berdiri dan berkata akan mencari Dayana karena sudah terlalu lama. Akan tetapi ketika Saka mencari Dayana dimana pun,ia tak menemukannya..sampai di tebing,ia melihat kebawah dan menemukan mayat Dayana yang bersimbah darah dan mayat para pendaki lainnya. Seketika gunung payakang berguncang hebat yang membuat Farel,Gilang,Lisa,dan Dina terpisah dari Saka.



Mereka berempat tiba-tiba merasakan hawa tidak enak di sekeliling mereka. Farel tiba-tiba merasa lemas dan seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak sementara Gilang terdiam melihat banyaknya sosok penghuni gunung payakang yang terlihat seperti mereka namun dengan perawakan yang luka terutama Lisa yang terlihat cacat. Salah satu dari sosok itu maju dan berkata "kalian pembawa petaka! jangan kembali ke gunung ini! desa yang kalian tempati sebelumnya desa terkutuk!" 


"Kalian semua membawa perpecahan pada dunia kami! Manusia baik lagi dan lagi menjadi korban atas sifat keji kalian!" Kata sosok berbadan besar dengan tangan patah yang menyerupai Farel. "Maafkan kami sungguh apakah ada cara untuk terbebas dari ini tanpa ada yang terlepas nyawa terkorbankan lagi.." tanya Gilang dengan tetap kuat dan percaya pada keteguhan dirinya.


"Tak ada jalan namun kalian harus merelakan gadis yang jatuh di tebing itu.. ia tidak mati hanya jiwanya telah terjebak dan terikat pada ketua bangsa kami.." Kata sang sosok yang begitu tua dengan tubuh yang tercabik seperti di makan hewan liar.


"Dayana?? Tidak! Dia tidak bersalah dan apa maksudnya Dayana terikat pada ketua bangsa kalian.." ujar Dina yang benar benar tidak percaya apa yang terjadi saat ini. Sosok itu kembali berkata. " Karena Dayana memiliki ikatan Sukma yang sama dengan ketua bangsa kami ". Farel yang hanya asal bicara berkata " Nambahin kerjaan aja ni Saka ,udah ngilang malah jadi ketua bangsa ghaib gunung payakang " Ucap Farel sambil bercanda. Namun hal itu membuat bangsa penghuni gunung payakang marah dan menatap tajam ke arah Farel. 


Sosok hitam bertubuh besar itu lalu berkata " Silahkan kalian lanjutkan pendakian, tetapi jangan sampai mati ". Kemudian pandangan mereka kabur dan mereka kembali ke gapura desa Sakau yang terlihat hancur dan dipagari tanda dilarang masuk. Gilang menoleh untuk mencari Saka dan firasat Gilang benar,di kejauhan dalam desa terlarang ia melihat Saka dan Dayana berpegangan tangan seraya tersenyum mengerikan dengan wajah yang hancur dan kaki kanan yang hampir putus. 



Gilang kembali menoleh ke arah teman-temannya lalu berkata dengan perasaan yang sedih dan berkata " Saka dan Dayana sudah hidup damai di alam lain ,lebih baik kita kembali ke kota ". Sesampainya dikota , mereka berempat tenggelam dalam pikiran mereka sendiri dan Lisa dihantui rasa bersalah yang begitu dalam. Gilang dan Dina sedang mencari informasi tentang desa tersebut namun tidak menemukan hasilnya. 

Farel kemudian mendapat ide untuk bertanya kepada nenek buyutnya yang masih hidup dari  zaman penjajahan tahun 1942. 


Setibanya mereka dirumah nenek buyut Farel yaitu nenek sun, mereka menanyakan soal desa Sakau dan gunung payakang. Mereka yang mendengar penjelasan nenek Sun tentang Desa Sakau tersebut terkejut bahwa mengetahui Desa itu telah lama hancur akibat ledakan bom yang di lancarkan oleh para penjajah sehingga semua warga desa yang ada disana tidak ada yang selamat termasuk Saka.


Meski sudah mengetahui hal tersebut melalui alam bawah sadar mereka. Ternyata, mereka tidak pernah benar-benar kembali dari desa. Mereka hanya berpikir mereka telah keluar, tetapi mereka masih berada di desa dengan gunung terkutuk itu. Mereka mati dan menjadi makhluk gaib seperti Saka dan Dayana, terperangkap dalam kutukan.

Selasa, 03 Februari 2026

Teman Baru Di Hari Minggu


Karya: Fadlan Multazami

Kelas: XI. 6

Pada Minggu pagi yang cerah, seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun bernama Andy sedang menggerutu di depan pintu. 

Ia merasa kesal karena ayahnya sangat lama bersiap-siap. Hari itu seharusnya menjadi hari yang menyenangkan, karena mereka akan berakhir pekan di taman kota bersama teman-teman Andy.

"Ayah, ayo! Lebih cepat bersiap-siapnya. Pasti teman-teman Andy sudah datang semua," keluh Andy, sambil sesekali melihat jam tangannya yang bergambar dinosaurus.


"Iya, ini Ayah sudah selesai. Ayah cuma masih mencari kunci motor," jawab Ayah sambil membongkar isi laci.


Andy tertawa kecil, lalu ia mengeluarkan kunci motor dari saku celananya. "Ini kunci motornya, Ayah," ujarnya polos.


Ayah menepuk jidatnya, merasa konyol karena sudah mencari ke mana-mana. 

"Wah, Ayah sampai lupa kalau ternyata Andy yang menyimpannya. Terima kasih, Nak!" Ayah tersenyum, dan Andy pun tertawa cekikikan.


Setelah semua drama kecil itu selesai, mereka akhirnya berangkat ke taman kota. Di sepanjang perjalanan, Andy tak henti-hentinya berbicara. Ia menceritakan badut lucu yang pernah ia lihat di jalan, teman-teman barunya di sekolah, dan tentang kucing tetangga yang baru melahirkan.


"Ayah, tadi pagi ada badut di depan minimarket, lho. Dia lucu banget, tapi Andy takut pas lihat balon-balon yang dia pegang meletus."


Ayah hanya tersenyum sambil sesekali mengangguk, mendengarkan celoteh anaknya. Ketika mereka melewati minimarket, Ayah memutuskan berhenti sebentar.


"Ayah mau beli apa?" tanya Andy heran.


"Ayah mau beli sesuatu buat Andy," kata Ayah misterius. Tak lama kemudian, Ayah keluar dengan es krim di tangan.


"Ayah, kenapa beli es krim? Andy lagi nggak mau es krim," kata Andy, meski matanya tak bisa lepas dari es krim cokelat yang menggiurkan itu.


"Serius? Ini rasa cokelat kesukaanmu, lho," goda Ayah.


"Yasudah, kalau cokelat, Andy mau!" Andy langsung semangat, tapi Ayah berpura-pura membuka bungkus es krim untuk dirinya sendiri.


"Katanya tadi nggak mau. Sudahlah, ini buat Ayah aja," goda Ayah lagi, tapi saat melihat wajah Andy yang mulai cemberut, Ayah tertawa dan menyodorkan es krim itu.


Andy pun menerima es krim dengan senyum lebar. Tangis yang hampir keluar dari matanya langsung tertahan. 

"Makasih, Ayah!" serunya sambil menjilat es krim dengan nikmat.


Namun, kebahagiaan Andy tak berlangsung lama. Tiba-tiba, langit yang tadinya cerah  berubah menjadi mendung dan hujan deras turun tanpa peringatan. Mereka berdua buru-buru berteduh di depan minimarket.


"Waduh, gimana ini, Ayah? Apa kita nggak jadi ke taman?" tanya Andy dengan wajah kecewa.


Ayah menatap langit yang semakin gelap. "Sepertinya begitu, Nak. Hujannya makin deras. Gimana kalau kita pulang saja sebelum kita kebasahan lebih parah?"


Andy terdiam sebentar, memandangi jalan yang basah dan sepatu kecilnya yang mulai tergenang air. "Jadi kita nggak jadi ke taman?" tanyanya sedih.


Ayah berjongkok di depan Andy dan menepuk pelan pundaknya. "Maaf ya, Nak. Kadang, rencana bisa berubah karena hal-hal di luar kendali kita. Tapi jangan khawatir, kita masih bisa bersenang-senang di rumah. Ayah bisa buatkan permainan, atau kita bisa menonton film bersama."


Andy mengangguk, meski hatinya masih berat. "Oke, Ayah. Kita pulang saja."


Ayah mengendarai motor mereka dengan pelan di tengah hujan yang deras. Sesampainya di rumah, mereka langsung mengganti pakaian yang basah. Meski kecewa karena tak bisa bertemu teman-temannya, Andy mencoba untuk menerima.


Saat sedang duduk di ruang tamu dan mendengar suara hujan yang semakin deras, Andy tiba-tiba mendengar suara lain dari luar. Seperti suara binatang kecil yang merengek.


"Ayah, Andy seperti mendengar suara hewan. Apa ayah mendengarnya?" tanya Andy.


Ayah juga mendengar suara itu. "Coba kita lihat ke teras."


Andy berlari ke arah pintu depan dan membukanya. Di sana, di bawah kursi teras, ada seekor kucing kecil berwarna abu-abu yang basah kuyup. Kucing itu tampak kedinginan dan ketakutan, berteduh dari hujan.


"Kasihan sekali kucingnya, Ayah," kata Andy. "Dia sendirian di luar."


Ayah tersenyum. "Sepertinya dia mencari tempat berteduh. Apa Andy mau memberinya makanan dan selimut?"


Tanpa ragu, Andy berlari ke dalam untuk mengambil handuk kecil dan sepiring susu. Ia lalu perlahan mendekati kucing itu dan mengeringkan bulunya yang basah. Kucing itu mengeong pelan dan tampak nyaman.


"Namanya siapa, Ayah?" tanya Andy sambil membelai kucing kecil itu.


"Sepertinya, kucing ini belum punya nama. Bagaimana kalau Andy yang memberi nama?"


Andy tersenyum lebar. "Kalau begitu, namanya... Rain, karena kita bertemu saat hujan turun."


Ayah tertawa kecil dan mengangguk setuju. "Nama yang bagus. Sekarang Andy punya teman baru di hari Minggu, kan?"


Andy mengangguk dengan semangat, memandangi kucing kecil yang tampak sudah mulai tenang. Meskipun tidak jadi pergi ke taman, hari Minggu itu tetap menjadi hari yang istimewa bagi Andy karena ia mendapatkan teman baru yang tak terduga.

Jumat, 31 Oktober 2025

FOTO IJAZAH KELAS XII SMAN2MPA 2025






BERIKUT ADALAH HASIL FOTO IJAZAH 

KLIK LINK DI BAWAH UNTUK MELIHAT FOTO

 LINK FOTO IJAZAH