Karya: Fadlan Multazami
Kelas: XI. 6
Pada Minggu pagi yang cerah, seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun bernama Andy sedang menggerutu di depan pintu.
Ia merasa kesal karena ayahnya sangat lama bersiap-siap. Hari itu seharusnya menjadi hari yang menyenangkan, karena mereka akan berakhir pekan di taman kota bersama teman-teman Andy.
"Ayah, ayo! Lebih cepat bersiap-siapnya. Pasti teman-teman Andy sudah datang semua," keluh Andy, sambil sesekali melihat jam tangannya yang bergambar dinosaurus.
"Iya, ini Ayah sudah selesai. Ayah cuma masih mencari kunci motor," jawab Ayah sambil membongkar isi laci.
Andy tertawa kecil, lalu ia mengeluarkan kunci motor dari saku celananya. "Ini kunci motornya, Ayah," ujarnya polos.
Ayah menepuk jidatnya, merasa konyol karena sudah mencari ke mana-mana.
"Wah, Ayah sampai lupa kalau ternyata Andy yang menyimpannya. Terima kasih, Nak!" Ayah tersenyum, dan Andy pun tertawa cekikikan.
Setelah semua drama kecil itu selesai, mereka akhirnya berangkat ke taman kota. Di sepanjang perjalanan, Andy tak henti-hentinya berbicara. Ia menceritakan badut lucu yang pernah ia lihat di jalan, teman-teman barunya di sekolah, dan tentang kucing tetangga yang baru melahirkan.
"Ayah, tadi pagi ada badut di depan minimarket, lho. Dia lucu banget, tapi Andy takut pas lihat balon-balon yang dia pegang meletus."
Ayah hanya tersenyum sambil sesekali mengangguk, mendengarkan celoteh anaknya. Ketika mereka melewati minimarket, Ayah memutuskan berhenti sebentar.
"Ayah mau beli apa?" tanya Andy heran.
"Ayah mau beli sesuatu buat Andy," kata Ayah misterius. Tak lama kemudian, Ayah keluar dengan es krim di tangan.
"Ayah, kenapa beli es krim? Andy lagi nggak mau es krim," kata Andy, meski matanya tak bisa lepas dari es krim cokelat yang menggiurkan itu.
"Serius? Ini rasa cokelat kesukaanmu, lho," goda Ayah.
"Yasudah, kalau cokelat, Andy mau!" Andy langsung semangat, tapi Ayah berpura-pura membuka bungkus es krim untuk dirinya sendiri.
"Katanya tadi nggak mau. Sudahlah, ini buat Ayah aja," goda Ayah lagi, tapi saat melihat wajah Andy yang mulai cemberut, Ayah tertawa dan menyodorkan es krim itu.
Andy pun menerima es krim dengan senyum lebar. Tangis yang hampir keluar dari matanya langsung tertahan.
"Makasih, Ayah!" serunya sambil menjilat es krim dengan nikmat.
Namun, kebahagiaan Andy tak berlangsung lama. Tiba-tiba, langit yang tadinya cerah berubah menjadi mendung dan hujan deras turun tanpa peringatan. Mereka berdua buru-buru berteduh di depan minimarket.
"Waduh, gimana ini, Ayah? Apa kita nggak jadi ke taman?" tanya Andy dengan wajah kecewa.
Ayah menatap langit yang semakin gelap. "Sepertinya begitu, Nak. Hujannya makin deras. Gimana kalau kita pulang saja sebelum kita kebasahan lebih parah?"
Andy terdiam sebentar, memandangi jalan yang basah dan sepatu kecilnya yang mulai tergenang air. "Jadi kita nggak jadi ke taman?" tanyanya sedih.
Ayah berjongkok di depan Andy dan menepuk pelan pundaknya. "Maaf ya, Nak. Kadang, rencana bisa berubah karena hal-hal di luar kendali kita. Tapi jangan khawatir, kita masih bisa bersenang-senang di rumah. Ayah bisa buatkan permainan, atau kita bisa menonton film bersama."
Andy mengangguk, meski hatinya masih berat. "Oke, Ayah. Kita pulang saja."
Ayah mengendarai motor mereka dengan pelan di tengah hujan yang deras. Sesampainya di rumah, mereka langsung mengganti pakaian yang basah. Meski kecewa karena tak bisa bertemu teman-temannya, Andy mencoba untuk menerima.
Saat sedang duduk di ruang tamu dan mendengar suara hujan yang semakin deras, Andy tiba-tiba mendengar suara lain dari luar. Seperti suara binatang kecil yang merengek.
"Ayah, Andy seperti mendengar suara hewan. Apa ayah mendengarnya?" tanya Andy.
Ayah juga mendengar suara itu. "Coba kita lihat ke teras."
Andy berlari ke arah pintu depan dan membukanya. Di sana, di bawah kursi teras, ada seekor kucing kecil berwarna abu-abu yang basah kuyup. Kucing itu tampak kedinginan dan ketakutan, berteduh dari hujan.
"Kasihan sekali kucingnya, Ayah," kata Andy. "Dia sendirian di luar."
Ayah tersenyum. "Sepertinya dia mencari tempat berteduh. Apa Andy mau memberinya makanan dan selimut?"
Tanpa ragu, Andy berlari ke dalam untuk mengambil handuk kecil dan sepiring susu. Ia lalu perlahan mendekati kucing itu dan mengeringkan bulunya yang basah. Kucing itu mengeong pelan dan tampak nyaman.
"Namanya siapa, Ayah?" tanya Andy sambil membelai kucing kecil itu.
"Sepertinya, kucing ini belum punya nama. Bagaimana kalau Andy yang memberi nama?"
Andy tersenyum lebar. "Kalau begitu, namanya... Rain, karena kita bertemu saat hujan turun."
Ayah tertawa kecil dan mengangguk setuju. "Nama yang bagus. Sekarang Andy punya teman baru di hari Minggu, kan?"
Andy mengangguk dengan semangat, memandangi kucing kecil yang tampak sudah mulai tenang. Meskipun tidak jadi pergi ke taman, hari Minggu itu tetap menjadi hari yang istimewa bagi Andy karena ia mendapatkan teman baru yang tak terduga.





